LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK
“Pemisahan Dengan
Cara Pengendapan”
Nama : Frima Aulia Rizda
Nim : J1A114032
Dosen Pengampuh :
Ulyarti S.Tp.,M.Sc
TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar Belakang
Di alam, sebagian besar zat atau
benda yang kita ketemukan tidak dalam keadaan murni atau tunggal, sebagian
besar zat-zat merupakan campuran dari berbagai macam senyawa atau unsur. Dalam banyak
hal senyawa atau unsur dibutuhkan oleh kita dalam keadaan murni. Senyawa atau
unsur dalam keadaan murni diperlukan untuk pembuatan obat dan keperluan lainnya.
Hal ini diperlukan agar reaksi dapat berjalan dengan sempurna dan hasil reaksi
juga memiliki kemurnian yang tinggi. Untuk mendapatkan senyawa-senyawa yang
murni diperlukan proses pemisahan. Dalam kimia, proses pemisahan
digunakan untuk mendapatkan satu atau lebih produk yang lebih murni dari sebuah
campuran senyawa kimia. Pemisahan dengan jalan pengendapan merupakan proses pemisahan
yang paling umum penggunaannya untuk memisahkan analit- analit dari pengganggu
penggangunya.
Dalam hal ini analisis gravimetri merupakan
suatu cara analisa kimia kuantitatif yang didasarkan pada prinsip penimbangan
berat yang di dapat dari proses pemisahan analit dari zat – zat lain dengan
metode pengendapan. Zat yang telah di endapkan ini di saring dan dikeringkan
serta ditimbang dan diusahakan endapan itu harus semurni mungkin. Dasar
pemisahan pengendapan adalah perbedaan kelarutan analit (komponen atau
konstituen yang dicari) dengan zat-zat atau komponen lain yang tidak
diinginkan. Pada metode pengendapan ini membutuhkan pemahaman yang memadai tentang
reaksi pengendapan
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mempelajari cara pemisahan dengan
jalan pengendapan dan menghitung
berat sampel dari hasil penyaringan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gravimetri
Analisis
gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa
tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera diubah
menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dapat dihitung
berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur – unsur atau senyawa yang
dikandung dilakukan dengan berbagai cara, seperti : metode pengendapan; metode
penguapan; metode elektroanalisis; atau berbagai macam cara lainya. Pada
prakteknya 2 metode pertama adalah yang terpenting, metode gravimetri memakan
waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila
perlu faktor-faktor
pengoreksi dapat digunakan (Khopkar,1990).
Gravimetri
adalah pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan hasil reaksi pengendapan.
Gravimetri merupakan pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan paling
sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya. Kesederhaan itu
kelihatan karena dalam gravimetri jumlah zat ditentukan dengan cara menimbang langsung
massa zat yang dipisahkan dari zat-zat lain (Rivai,1994).
Pada
dasarnya pemisahan zat dengan gravimetri dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Mula-mula cuplikan dilarutkan dalam pelarutnya yang sesuai, lalu ditambahkan
zat pengendap yang sesuai. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan
atau dipijarkan, dan setelah itu ditimbang. Kemudian jumlah zat yang ditentukan
dihitung dari faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan sebagai persentase
bobot zat dalam cuplikan semua (Rivai,1994).
2.2 Gravimetri Pengendapan
Gravimetri
pengndapan adalah merupakan gravimetri yang mana komponen yang hendak
didinginkan diubah menjadi bentuk yang sukar larut atau mengendap dengan
sempurna. Bahan yang akan ditentukan di endapkan dalam suatu larutan dalam bentuk
yang sangat sedikit larut agar tidak ada kehilangan yang berarti bilaendapan
disaring dan ditimbang. Syarat–syarat senyawa yang di
timbang: Stokiometri Mempunyai kestabilan yang tinggi Faktor
gravimetrinya kecil
Adapun
beberapa tahap dalam analisa gravimetri adalah sebagai berikut :
1. Memilih
pelarut sampel Pelarut yang dipilih harus lah sesuai sifatnya dengan
sampel yang akan di larutkan,Misalnya : HCl, H2SO4, dan HNO3 digunakan untuk
melarutkan sampel dari logam – logam.
2. Pengendapan
analit Pengendapan analit dilakukan dengan memisahkan analit dari larutan
yang mengandungnya dengan membuat kelarutan analit semakin kecil, dan
pengendapan ini dilakukan dengan sempurna. Misalnya : Ca+2 + H2C2O4 =>
CaC2O4 (endapan putih)
3. Pengeringan endapan Pengeringan yang
dilakukan dengan panas yang disesuaikan dengan analitnya dan dilakukan dengan
sempurna. Disini kita menentukan apakah analit dibuat dalam bentu oksida atau
biasa pada karbon dinamakan pengabuan.
4. Menimbang
endapan Zat yang ditimbang haruslah memiliki rumus molekul yang
jelas Biasanya reagen R ditambahkan secara berlebih untuk menekan
kelarutan endapan (Day and Underwood, 2002).
Dalam
menentukan keberhasilan metode gravimetri ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, yaitu :
1. Proses pemisahan
hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara
analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang dalam menentukan
penyusunan utama dalam suatu makro)
2. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan
yang pasti dan hendaknya murni, atau sangat hampir murni. Bila tidak akan
diperoleh hasil yang galat.Persyaratan yang kedua itu lebih sukar dipenuhi oleh
para analis. Galat-galat yang disebabkan faktor-faktor seperti kelarutan
endapan umumnya dapat diminimumkan dan jarang menimbulkan galat yang
signifikan. Masalahnya mendapatkan endapan murni dan dapat disaring itulah yang
menjadi problema utama. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai pembentukkan
dan sifat-sifat endapan, dan diperoleh cukup banyak pengetahuan yang
memungkinkan analis meminimumkan masalah kontaminasi endapan (Day and
Underwood, 2002).
Endapan
murni adalah endapan yang bersih, artinya tidak mengandung molekul-molekul lain
(zat-zat lain yang biasanya disebut pengotor atau kontaminan). Pengotor oleh
zat-zat lain mudah terjadi, karena endapan timbul dari larutan yang berisi
macam-macam zat. Sedangkan endapan kasar adalah endapan yang butir- butirnya
tidak kecil, halus melainkan besar. Hal penting untuk kelancaran penyaringan
dan pencucian endapan. Adapun tujuan dari pencucian endapan adalah untuk
menyingkirkan kotoran yang teradsorpsi pada permukaan endapan maupun yang
terbawa secara mekanis (Harjadi, 1993).
Gravimetri
dengan cara pengendapan, analat direaksikan sehingga terjadi suatu pengendapan
dan endapan itulah yang ditimbang. Atas dasar cara membentuk endapan, maka
gravimetri dibedakan menjadi 2 macam :
(1) Endapan
dibentuk dengan reaksi antara analat dengan sutau pereaksi, endapan biasanya
berupa senyawa. Baik kation maupun anion dari analat mungkin diendapkan, bahan
pengendapnya anorganik mungkin pula organik. Cara inilah yang biasa disebut
dengan gravimetri.
(2) Endapan
dibentuk dengan cara elektrokimia, dengan perkataan lain analat dielektrolisa,
sehingga terjadi logam sebagai endapan. Cara ini biasa disebut dengan
elektrogravimetri.Salah satu masalah yang paling sulit dihadapi oleh para
analis adalah menggunakan endapan sebagai cara pemisahan dan penentuan
gravimetrik adalah memperoleh endapan tersebut dengan tingkat kemurnian yang
tinggi. Zat-zat yang normalnya mudah larut dapat diturunkan selama pengendapan
zat yang diinginkan dengan suatu proses yang disebut kopresipitasi. Misalnya,
bila asam sulfat ditambahkan pada barium klorida yang mengandung sejumlah kecil
ion nitrat, endapan barium sulfat yang diperoleh mengandung barium nitrat. Maka
dikatakan bahwa nitrat tersebut terkorosipitasi dengan sulfat (Day and
Underwood, 2002).
BAB III
METODELOGI
1.1
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilakukan di hari Sabtu, 18 Februari 2017 di Laboratorium Fisika, Fakultas
Teknologi Pertanian, Universitas Jambi, Pondok Meja yang dilaksanakan pukul
13.00 s/d 15.00 WIB.
1.2
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan dalam pemisahan dan penentuan perak adalah tabung reaksi, oven,
spatula kaca, timbangan, pipet tetes, gelas ukur, bekker glass, corong kaca.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan sampel, HNO3, NaCl 5%, dan kertas
saring.
1.3
Prosedur Kerja
Pertama
larutan sampel 50 ml dimasukkan ke dalam bekker glass 100 ml, lalu teteskan
NaCl 5% sambil diaduk perlahan dan pertahankan agar temperature tetap konstan.
Penambahan NaCl 5% terus dilakukan hingga terbentuk endapan dengan ditandainya
dengan jernihnya larutan sampel dibagian atas (dengan waktu kurang lebih 3
menit). Ambil larutan atas yang berwarna bening dan uji dengan beberapa tetes
NaCl 5%, jika tak terbentuk larutan putih atau endapan artinya semua perak
sudah terendap. Kemudian letakkan bekker glass ditempat gelap selama 30 menit
sebelum disaring. Timbang kertas saring Whattman yang akan digunakan untuk
menyaring endapan. Selanjutnya lakukan penyaringan dengan hati-hati agar semua
endapan dan filtrat bisa diambil. Setelah itu sisihkan filtrat ditempat aman.
Lalu endapan yang didapat dicuci dengan asam nitrat 0,02 N sebanyak 2x. kertas
saring dan endapan dioven dalam suhu 110 – 130oC selama 1 jam.
Dinginkan dan keringkan dalam desikator atau eksikator. Timbang endapan sebagai
berat AgCl.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pemisahan dan penentuan
perak
Berat kertas saring = 1,063 gr
Berat endapan perak = 1,215 gr
Berat hasil = berat endapan perak – berat
kertas saring
= 1,215 gr – 1,063 gr
= 0,152 gr
Berat sampel = 50 ml
% rendemen = (berat hasil / berat sampel)X 100%
= (0,152/50) X 100 %
= 0,304 %
4.2 Pembahasan
Pada
praktikum pemisahan dengan cara pengendapan ini sampel yag di gunakan adalah
sampel yang berisi perak, besi dan crom. untuk mendapatkan endapan perak
dilakukan menggunakan kertas saring yang mana terlebih dahulu larutan tersebut
di endapkan dengan penambahan NaCl 5% . pada saat penambahan endapan NaCl 5%
dilakukan sedikit sedikit, hal ini bertujuan agar NaCl bereaksi dengan larutan
dengan konsentrasi yang sesuai sambil di aduk aduk.
Penambahan
NaCl 5% bertujuan agar perak terbentuk endapan dalam bentuk kationnya, maka
endapan yang terbentuk adalah AgCl. Pengujian dengan menggunakan NaCl adalah
untuk melihat apakah larutan telah terpisah, hal ini di tandai dengan
terbentuknya endapan putih pada bagian bawah larutan.
Penyimpanan
larutan semalam 30 menit bertujuan agar endapan mengendap dengan sempurna. Jika
larutan terpapar cahaya matahari maka endapan klorida akan terurai menjadi abu
abu hitam pada endapan perak klorida ( AgCl ).
BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang
di dapat dari praktikum ini adalah :
·
Penambahan Larutan NaCl
berujuan agar terbentuknya endapan perak AgCl
·
Penyimpanan endapan
bertujuan agar endapan terbentuk sempurna
·
Cahaya matahari dapat
menyebabkan endapan klorida akan terurai menjadi abu abu hitam pada endapan
perak klorida
·
Dari sampel 50 ml
endapan yang terbentuk adalah 0,152 gr dengan persen rendemen 0,304 %
DAFTAR
PUSTAKA
Harjadi,
W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Khopkar, S.M.(1990). Konsep Dasar Kimia Analitik.
Jakarta : UI Press.
Rivai, H. (1994). Azas Pemeriksaan Kimia. Padang :
UIP
Underwood,
A.L, Day, R.A. (1996). Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga.
LAMPIRAN

Gambar 1. sampel pada kertas saring

Gambar 2.pengujian sampel dengan NaCl 5%

Gambar 3. penyaringan sampel
Komentar
Posting Komentar